March 13-14, 2010.
Pernah ku jajaki tanah itu hampir setahun yang lalu, namun akhirnya aku kembali lagi.
Udara-udara dingin,
Cemoro kandang yang berselimut kabut,
Dan sang kembar Cemoro Sewu yang telah basah oleh rintik hujan menanti kedatangan kami.
Sang Lawu berkata,
“Tajam tanjakanku pertanda ucapan selamat datang buatmu,
Tak seberapa kuatmu jika dibandingkan aku,
Hanya saja aku akan bersahabat jika kalian mau menjagaku, tanpa mengambil secuilpun dariku,
Silakan, itu jalan kalian, sengaja kubuat untuk kalian yang akan mencari Tuhanmu dipucuk sana.
Temui Dia, tanpa harus berpikir apa (memang) benar ini jalannya? Dan dia akan datang kedalam hatimu.
Di sini, esok pagi, kutemui kalian di gapura dan gardu-gardu ini.
Selamat berjalan pendaki.”

hargodumilah
Rangkaian kata gambar dari perjalanan kami seminggu yang lalu. Lawu, akhirnya aku kembali kesana lagi. Teringat satu hal yang belum sempat terlaksana namun akhirnya aku mempunyai kesempatan untuk menceritakannya. Setahun, atau hampir lebih, sudah tak tergambar jelas bagaimana gambaran ketika aku kesana, namun memang keberuntungan selalu menyertaiku. Kali ini, dengan status “ menemani” akhirnya aku kembali menjenguk sang Hargodumilah yang waktu itu masih sangat kecil sekali, nmaun sekarang…lihatlah!!!
Keberangkatan dimulai, lagi-lagi diawali dengan tahap keragu-raguan. Hampir sama dengan trekking akhir tahun ke Sindoro kemarin yang harus melewati rasa bimbang karena cuaca yang memang seharusnya itu adalah memang musim (penghabisan) hujan. Dua minggu, satu minggu dan waktu untuk menimbang tentang kepastian hampir habis, namun keadaan belum membaik, jogja masih tetap dingin dengan hujan dan petirnya yang menghiasi langit hampir setiap sore. Sama seperti biasanya, keragu-raguan ku pasti memuncak dan hampir terpatahkan oleh rasioku yang mulai bermain kala itu. Namun tidak, aku punya tuhan, dan aku hanya bisa meminta kepadanya untuk menemaniku jika aku yakin akan melakukannya. Kutanya-tanya ke siapapun yang kuanggap lebih jago dariku untuk urusan itu, dan sebagian dari mereka hanya berkata “ alam sedang tidak bersahabat, mantabkan hatimu jika memang akan keluar.”
Terngiang-ngiang dipikiranku, hal yang bisa membatalkan semuanya. Namun tidak hentinya sang Kuasa brpihak padaku, dipertemukannya aku dengan seorang teman lamaku (sebenarnya) ternyata sangat membantuku untuk acara kali ini. Dulu dia yang bukan seorang yang terlihat tergiur untuk urusan seperti itu, namun ternyata sekarang dia adalah seorang yang bernaung dibawah sebuah bendera dan kebanggaannya, Kompos – Mapala pertanian UNS. Keraguanku sedikit banyak berkurang olehnya, yang notabene dia tinggal lebih dekat dengan tempat tujuan kami kali ini.
Layaknya seorang facebook-er sejati, update status aku lakukan guna memantau keadaan dan meyakinkan diri apakah benar-benar kami akan berkunjung ke Giri itu. Dengan segala niat dan persiapan dan segala calculation yang sudah diperhitingkan sebelumnya, maka Lawu we are coming!!!
Stasiun Lempuyangan March 13, 2010. 10.30 am (lagi-lagi) bersama seorang sahabat gila gunung dan dua orang temannya, maka kami bergegas menuju stasiun Lempuyangan. Seharusnya lima, namun satu yang kuharap akan bisa menemaniku seperti kemarin tidak bisa, mungkin memang belum berkeinginan lagi. Sayang sekali. Dan akhirnya empat orang datang membawa tas yang tidak lazim dan entah apa isinya, maka lumayan menjadi pusat tontonan buat para penumpang lain.
Kereta berangkat dan sampailah kami di stasiun Jebres pukul 14.30. Dan bergegas mencari bus guna segera bertemu dengan kompas kami kali ini, kompos. Rombongan terpecah menjadi dua, kami yang via public transport dan rombongan via motor. Pukul 15.00 bertemulah kami di depan pintu gerbang UNS dan disambut oleh mas-mas dari kompos. Friendly. Semua berkumpul dan kami melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Tawangmangu, kali ini kita bersepuluh dengan tambahan dari para kompos-er. Pukul 17.00 sampailah kami di terminal TWMG, dilanjut via mini bus untuk sampai ke basecamp tujuan, cemoro sewu. Pukul 18.30 sampailah kami disana begitu juga dengan rombongan motor yang sudah tiba terlebih dahulu. Repacking, berbenah dan sembahyang dilakukan segera, dan disusul pengisian bahan bakar perut diwarung basecamp, namun hujan dan kabut menyapa untuk beberapa saat. Pukul 21.30 oleh om-om kompos diputuskan untuk berangkat, masih sedikit hujan dan berkabut, namun tidak menyurutkan niat kami untuk berangkat. 15 orang berangkat dari pos pendakian cemoro sewu, dibawah rintik hujan dan tebalnya kabut. Perjalanan malam yang menyenangkan.
Memang rencana sedikit berubah karena ternyata secara implisit kompos sedang mendiklat anak baru mereka untuk membiasakan dan melatih fisik, kata mereka. Namun bagi yang lain yang ada hanya sebuah kejadian cukup sadis namun memang begitulah siklus mapala. I have never felt before. Tiwik…kowe kejem juga ternyata. Ditambah, yang ini bisa dibilang penyebab melambatnya tempo jalan kami yang berujung pada molornya waktu tempuh kami, adalah dia yang sedang di ‘diklat’ sedang mengalami siklus bulanan kewanitaannya. Ditambah beban yang dilimpahkan kepadanya lumayan keren untuk ukuran anak baru, kejem juga tapi the show must go on. Berjalan perlahan yang akhirnya memaksa kami untuk melek along the night dan tidak menikmati tidur malam karena terlambatnya jadwal kedatangan kami ketempat yang sudah direncanakan sebelumnya. Tak mengapa. Pos 1, pos 2 dan pos 3 kami lewati dengan sebentar-sebentar singgah dan ada yang sempat beristirahat disana.

menanti fajar

sunrise
Mengejar sunrise, itu ceritanya, namun gara-gara kami harus gambling dengan jarak dan kecepatan maka diputuskan untuk menjemput sunrise disebuah spot yang cukup “dapet” yang kami temukan ditengah-tengah perjalanan. Bersyukur kami menemukannya dan mulailah kami beraksi. Dengan ditemani sedikit penghangat yang sengaja dibuat oleh salah seorang dari kami maka kami menanti sang fajar datang dan segera mengabadikannya. Sementara . Rombongan terpecah menjadi tiga, mereka yang duluan, kami berempat yang ditengah dan om-om yang dibelakang yang sempat mengalami hambatan ketika akan menyusul.
Sendang drajat vs mbok yem

medeng tjah
Puas dengan berbagai pose yang sengaja kami tampilkan dengan ber-background mentari, kami pun melanjutkan perjalanan naik menuju spot yang direncanakan semalam untuk ngecamp,tempat bernama mbok yem ku kira namun salah. Kami berjalan menuju sebuah mata air bernama Sendang Drajat, dimana disitu ada sebuah keluarga yang tinggal disana, menetap disana dan sudah deal dengan lawu for many years pastinya. Sayang tidak ada gambar yang bisa ditampilkan karena saya lupa mengabadikannya. Bukan mbok yem ternyata, sedangkan yang mereka namakan mbok yem ternyata berdomisili di satu bukit setelahnya, edan jauh, maka kami tidak sempat menengoknya.
Hargo dumilah

aku dan hargodumilah
Sendang Drajat, disana kami melakukan bermacam-macam aktifitas untuk menghidupi dan memanjakan diri kami, karena waktu memang masih sangat pagi. Mengistirahatkan badan, memasak, dan semua yang berhubungan dengan logistic kami lakukan ditempat tersebut, dan bahkan para kompos-er melakukan sebuah ritual aneh yang sempat kulihat yaitu sunbathing, koyo nang pantai wae, bermodal sebuah matras dan kacamata hitam maka para om-om dan tante-tante memanjakan diri mereka dengan tidur dibawah sinar matahari seperti turis kata mereka. Gendeng. Adapula, kudengar bahwa ada mas-mas yang sedang mengerjakan tugas kuliah didalam goa buatan yang ada disana karena dateline esok harinya. Lebih gendeng lagi, sho hok gie2 muda. Sementara satu rombongan telah usai dengan kegiatan mengisi perut mereka maka diputuskan untuk muncak terlebih dulu, disusul aku bersama siwi dan setelah beberapa saat kompos-er pun menyusul kami di puncak Hargodumilah.

when they were in the top
Ritual dipuncak pastilah yang paling berkesan untuk setiap pendaki, jika dia bisa menikmatinya, mangabadikan semua yang ada karena memang hanya itu yang bisa dilakukan karena memang seharusnya demikian sesuai dengan jargon yang banyak ditemui hampir disetiap gunung tidak hanya di Lawu saja. Hargodumilah, 3265 MDPL, aku kembali. Puas dengan semuanya, menanti siang, beristirahat dan akhirnya sang sweeper datang. Menanti mereka berisirahat dan tak lama kemudian kami memutuskan untuk turun, namun kali ini kami melewati jalur Jawa Tengah-Cemoro Kandang sebagai variasi sekaligus memecahkan telor rekor perjalanan. Trek turun lumayan datar walhasil kami turun dengan speed untuk mengejar waktu agar tidak terlalu malam sampai dibawah. Dejavu, masih sedikit membekas namun semakin jelas diingatanku bagaimana jalur dan spot-spot tertentu yang pernah kujejaki meski sudah hampir setahun yang lalu aku tidak bertemu lagi. Jalur turun Ondo rante masih sangat membekas diingatanku, jalur pintas namun agak membutuhkan perhitungan bila ingin mengambilnya. Dan kami menapaki jalan-jalan itu, pos 4 cokrosuryo 3025, pos 3 penggik 2780, pos 2 taman sari atas 2470, pos 1 taman sari bawah 2300 dan terakhir base camp cemoro kandang, sampailah kami disana sekitar pukul 18.00.
Basecamp Kompos to jogja
Beruntung sampai dibasecamp masih sesore itu, namun tetap saja kami sudah tidak perlu repot-repot bingung memikirkan bagaimana cara turun atau bahkan cara untuk sampai ke kota lagi karena telah ada mas-mas kompos yang telah mencarikan fasilitasnya. Benar-benar total mereka, hingga bingung bagaimana cara berterima kasih kepada mereka. Usai berkumpul dengan rombongan yang telah tiba terlebih dulu yang patinya mereka telah packing lebih dulu, berbenah,mengisi perut dan akhirnya kami pulang menuju basecamp Kompos, sedangkan mereka yang pakai motor telah lebih dulu turun. Perjalanan memakan waktu satu setengah jam untuk sampai ke basecamp kompos. Pukul 20.30 sampai uns, berbenah, mandi beristirahat dan akhirnya kami harus segera meninggalkan tempat tersebut untuk segera kembali ke ranah Jogja dikarenakan kesibukan kami di keesokan harinya, maka kali ini kami untuk menggunakan bus malam Mira “the fast and the yak-yak an”, dan ini lah untuk pertama kalinya kami benar-benar adventuring via public transport dan sampailah kami dibawah jembatan Janti pukul 23.30 waktu Indonesia bagian Jogja. What a record!!! Alhamdulillah.

siluet matahari ku

tim expedisi 1

sweeper dan teman-teman
Thanks to:
KOMPOS ( Tiwik, Mutia,Om Bokep, Om Son, Om Ipul, mas siapa satu lagi)
Siwi, Ibon, Khan, Pakde Bro,Uzhy, Enchit, Burhan’s friends
mari lanjutkan brada………..!!!
-arc-