SINDORO…(dan patahlah semua rekorku.)
Sebuah kisah (lagi) mengenai ekspedisi puncak sebuah gunung pada penghujung tahun 2009. Sementara para kristian sibuk dengan segala kemeriahan hari besar mereka, beberapa orang dan banyak lagi malah melakukan aktifitas yang kurang rasional sedangkan mereka tau ini adalah musim hujan. Adalah beberapa orang yang berasal dari dua dan bahkan lebih “klan” KPA yang mencoba menjelajahi puncak-puncak tinggi bumi ini, aku bersama ayuk, sule, burhan, mas sis, siwi, sita dan sebut saja sisanya adalah anak-anak “senero” karena memang aku kurang hafal dengan satu per satu dari mereka meski telah berkenalan sebelumnya. Ya, mereka semua adalah rombongan ekspedisi kali ini Puncak Sindoro.
Berawal dari kemelut keberangkatan yang cukup menyita waktu karena berbagai masalahnya (seperti biasa) namun akhirnya kami bisa berangkat dengan nyaman pagi itu. Dan kali ini adalah keberangkatan terpagi dan terjauh yang pernah kulakukan. Bersama tujuh orang dari kelompokku dan dua orang lagi adalah dari penyelenggara maka berangkatlah kami menuju basecamp sindoro-wonosobo. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dengan segala kekacauan yang terjadi selama perjalanannya, maka tepat pukuk 11 am sampailah kami di basecamp desa Kledung G. Sindoro. Kebetulan sekali hari itu adalah hari jumat dan akhirnya setelah beristirahat kurang lebih satu jam kami pun pergi untuk menunaikan kewajiban di hari jumat. Sementara ritual jumat belum selesai, datanglah rintik-rintik hujan yang semakin lama semakin besar yang berujung pada sebuah hujan. Terasa sekali, dingin menusuk tulang kami yang sedang duduk di teras masjid yang sangat dingin sembari mendengar khotbah jumat yang terasa lama sekali kala itu.
Ibadah selesai, namun hujan belum mau berhenti dan terpaksa kami menunggu hingga hujan reda. Di sela-sela obrolan kami (aku,sule,burhan dan mas sis) aku melihat ada beberapa orang terlihat berpenampilan liar seperti kami yang notabene mereka adalah pendaki, maka aku berkata “ syukurlah, ada teman kita nanti disana.”
Belum reda betul hujan, kami kembali ke basecamp untuk berkumpul dan melakukan segala persiapan terakhir sebelum memulai perjalanan. Satu jam kemudian perjalanan dimulai, diawali dengan sedikit briefing dan doa maka kami mulai berjalan. Dan itu adalah perjalanan ditengah hujan yang pertama kali kurasakan dan kulakukan. Ku kira perjalanan akan menjadi sangat berat di saat hujan, namun ternyata salah, tidak ada satu pun logistik berkurang dari carierku dan perjalanan menjadi terasa lebih cepat disaat hujan. Namun karena aku mengajak seorang yang notabene ini adalah pendakian perdana-nya, maka jam istirahat kami pun bertambah hanya saja waktu tempuh menjadi dua jam overlapping. Namun semua tetap terasa menyenangkan. Melihat mukanya yang kelelahan, capek, adalah kejadian tak terbayang sebelumnya,dan itu adalah fitur selama perjalanan. Dari basecamp, melewati ladang penduduk berteduh di pos ojek (mereka bilang) dan akhirnya sampailah kami di pos I. Sampah. Ya, yang ada hanya sampah dengan bangunan pos nya yang sudah ambruk. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan dengan tetap memakai jas hujan karena memang hujan masih setia menemani. Dan berjam-jam kami berjalan akhirnya sampai di pos II. Tetap saja, banyak sampah yang terlihat disana sini. Apa ini….!!??
Beruntung hujan reda di pos II, dan kami bisa bebas tanpa harus berselimut mantol, dan perjalanan dilanjutkan. Hari menjelang petang dan kami pun berhenti untuk beribadah dan tak lama kemudian kami beranjak lagi. Berjalan selama beberapa jam dan sekitar pukul 8 lewat maka sampailah kami di pos terakhir-pos III- dan telah banyak dome berdiri namun masih ada sedikit ruang untuk kami untuk mendirikan rumah semalam kami. Sebelumnya aku mencari untuk memastikan apakah rombongan siwi dkk telah sampai atau belum karena memang di perjalanan rombongan terpecah menjadi dua dan menyisakan kami berlima yang baru saja datang. Beruntung mereka telah sampai maka kami pun beraktifitas untuk mencukupi kebutuhan kami sendiri. Rumah telah berdiri dan kami masak menu andalan kami dan selang beberapa saat ada yang terlelap karena mungkin memang kecapekan. Menyisakan aku dan sule untuk sedikit bercengkerama dan merencanakan keberangkatan esok hari dengan ditemani kopi, susu dan mie instan panas yang terasa begitu sempurna. Tak lama kami pun beristirahat untuk mengumpilkan sedikit tenaga untuk esok hari.
Tidur ayam, istilah yang barusaja diperkenalkan Ayuk kepadaku. Itulah yang kualami menunggu pagi, berteman dengan suara radio dari tenda sebelah. Siaran anehhh….saruu???!! Ditambah satu kekhawatiran akan keselamatan anak orang untuk melewati malam itu maka benar-benar aku menjadi sangat kuat dari biasanya.Huyeee… Semua kulakukan untuk tugas berat bernama tanggung jawab. Ya, terasa berbeda dari biasanya. Bersyukur pagi datang dan semua baik-baik saja, dan setelah mempertimbangkan semua maka 2 dari rombongan kami tinggal ditenda karena memang kondisi mereka tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah rasah nggowo carierku le aboot banget kae, iso mblayu…hhe, sori bur!?!?
Jam 3 pagi, aku-ayuk-sule berangkat menapaki sisa-sisa trek terakhir menuju puncak yang ternyata medan terasa sangat berat. Mengejar sun rise, itulah tujuan kami, namun karena keadaan tidak memungkinkan maka diputuskan untuk menjemput sunrise di tengah-tengah perjalanan dengan sedikit aksi tertipu.
Puas dengan berbagai macam pose, maka perjalanan dilanjut dengan sisa semangat. Satu jam, dua jam, hingga akhirnya beberapa jam kemudian kami di-overlap oleh siwi dkk yang berangkat jauh setelah kami. Uedan tenan!! Tak mengapa, benar-benar kali ini aku menjadi seorang sweeper sejati, ditemani satu kawan dari mapala Madawirna uny, Sule, sengaja dia kusewa untuk menjadi sweeper kami. Hhahahaaa kapok… Tepat ditanjakan terakhir, hampir saja, satu semangat tumbang. Namun tak ku biarkan, ku tuntun dia dengan tertatih-tatih dengan kondisi yang sudah terlalu payah dengan semangat yang hampir sudah tidak ada lagi namun pelan-pelan maka tepat pukul 12.00 sampailah kami di puncak Sindoro. Mukanya tiba-tiba berubah, entah apa yang dia pikirkan dan biarkan dia merasakannya sendiri. Hebat kamu nay… Pemandangan kawah mati yang berisi air dengan sedikit membentuk danau berada tepat didepan mata kami. Ya, perasaan itu kembali muncul tanpa tau seperti apa pastinya dan bagaimana memberitakannya namun ia selalu datang kala aku berada di puncak-puncak karya Tuhan. That was extremely amazing….@#!@$%
Puas dengan puncak sindoro yang begitu luas dengan kawahnya dan segala isinya, tenaga telah cukup terisi lagi, hati juga sudah berkata cukup, maka perjalanan turun pun dimulai. Seperti biasa turun selalu lebih cepat dari naik, dan begitulah kenyataannya. Sembari menikmati view disekitar sebelum meninggalkannya, dan bertemu dengan semangat-semangat baru dari para pendaki yang sedang berusaha naik, benar-benar teman sempurna saat turun. Sampai lagi di pos III dan kami berbenah semua barang yang kami pakai semalam, packing dan perjalanan turun berlanjut. Hujan menyambut kami lagi di tengah perjalanan sebelum pos II dan kembali kami harus berselimut jas hujan. Maghrib, dan tepat isya’ kami tiba di basecamp dengan selamat. Alhamdulillah… we finally did it.
Beberapa records keren lainnya :
- fasilitasnya ok, di gunung kok ada tukang ojek…hemmh.
- Itu adalah gunung terkotor yang pernah ku jumpai.
- Itu adalah gunung termahal yang pernah ku singgahi.
- Itu adalah kedatangan di basecamp paling sore yang pernah kualami.
- Itu pula kepulangan (ke jogja) termalam yang pernah kualami.
- dan perjalanan kali ini adalah perjalanan tanpa doping sedikitpun yang pernah kulakukan.
- And all the records have already broken,
- Sindoro, I’ll be back. Thanks to all.
-25261209-






udan-udan kok munggah gunung to lele,,,,
golek opo jan…..
ketemu rung sek digoleti
wah sundoro… kalo saya mau ke kampung halaman suka lewat gunung sundoro… cuma lewatin tok dari jauh.. hehehe….
hehe…ya gini. yg deket wae malah ogah nengok, tp knp kita yang dari jauh malah dibela2in kesana ya?? cm mau naek gnung meneh…hhahay…
tau gitu kmren mmpir ktmpate mbaknya tu. mmpir mndi,mmpir istirahat, sm mmpir dikasih maem…hhay.
Pingback: (ke) 3265 lagi… « blogbaiktemanarik
salut dng kalia meski d tmani hujan kalian bisa naik puncak,,,,!!!!!!! aku jga prihati dng orang yang mengotori gunug sindoro ku yg indah munki mereka bikan pencinta alam tapi penikmat alam,,,,
hahha….udah lama banget itu om. pertama kali naek kena ujan deres…aseemmmm.hahaha