April kali ini tak ada yang spesial, satu yang teringat hanya sebuah peristiwa setahun yang lalu…
Monday, April 26, 2010. Pesan datang dari dia-yang-kucinta di sepertiga malam terakhir , diikuti setelahnya dan selanjutnya berdatangan dan mulai memenuhi inbox ku. Perlahan mulai membaik dan akhirnya aku bisa terlelap. Kubuka mataku dan ternyata mentari sudah berdiri setengah membungkuk dengan sinarnya yang mulai menghangatkan semuanya, ya, sudah hampir siang. Berniat memulai aktifitas dengan apapun yang bisa dikerjakan namun akhirnya aku hanya duduk termangu memandangi komputer yang mulai menyala dan aku pun akhirnya bermain dengannya. Menghabiskan hampir separuh hari bersamanya ternyata mulai membosankan, kucukupkan dan aku bergegas menuju kampus tercinta menuju perpus dan akhirnya aku membuka sedikit buku-buku yang ada disana meski tidak aku ketahui benar apa isi dan esensi dari apa yang kubuka.
Beberapa saat termenung memandang beberapa orang disana, diam satu tujuan satu pandangan, menjenuhkan tapi aku sadar suatu saat mau tidak mau aku akan seperti mereka,damn. Selesai, dan aku berpindah menuju satu tempat dimana tinggal seorang gadis cantik yang menjadi motor dari setiap aktifitasku kini. Kutengok sebentar dan kutinggal lagi untuk sebuah urusan. Melangkah menuju kampus untuk sejenak bertemu dengan teman-teman, bercanda, membicarakan apapun seadanya, dan sudah hampir jam tiga. Aku putuskan kembali ke persinggahanku untuk segera mengambil barang sekenanya karena aku ingat bahwa hari itu adalah hari bersejarah untuk saudara laki-laki ku, menerima laporan akan hasil berjuangnya selama tiga tahun, sama persis dengan yang kualami hampir lima tahun yang lalu.
Bergegas menuju kota tua di timur kota Jogja, klaten. Berharap untuk tidak terlambat untuk menyaksikannya, karena dalam bayang pikiranku akan sama dengan kejadianku sewaktu aku mengalaminya. Satu jam berjalan menuju tempat tersebut dan sampai didepan pintu gerbang yang telah penuh sesak dengan bocah-bocah yang menunggu jawaban hidup mati mereka, raut muka yang beragam dengan pelampiasan segala bentuk polah tingkah mereka untuk mengalihkan perhatian kekhawatiran menunggu ketidak pastian. Pukul lima, suasana riuh semakin menjadi setelah semua tau bahwa mereka berhasil menyelesaikannya, entah apa yang dipikirkan dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka yang belum berhasil, entah.
Berakhir, dan tepat magrib kuputuskan bergegas kembali ke Jogja, berniat untuk bersama teman-teman untuk sebuah kegiatan namun sepertinya terlambat dan akhirnya aku berlabuh ditempat gadisku lagi. Kejutan pertama datang, a white rose given to me by my beloved girl. Surprising karena itu adalah habitku presenting a rose as a symbol of pride, kenapa dia melakukannya juga, thank u so much dear…
Melewatkan malam ditempat tersebut dan aku bergegas pulang, bersih diri dan semuanya dan bersiap untuk istirahat namun ada sebuah pesan datang dari the chief of the brandal untuk pergi melakukan ritual dan kusanggupi. Tanpa berfikir panjang aku berganti baju dan pergi berjalan kaki menuju tempat kejadian perjaka uupss perkara. Tanpa berfikir panjang aku bertingkah seperti biasa dengan membawa semua peralatan untuk ritual. Bertingkah semaunya, bercanda, tertawa, dan tiba-tiba ada satu dua dan empat lilin disamping muka ku sambil diiringi lagu yang paling laris di setiap tahunnya, happy birthday, selamat ulang tahun yang ke 17, lima tahun yang lalu…
Anjriiitttt….aku tak bisa berkata, surprise dari keluarga keduaku. Tak pernah kusangka, mereka membuatku diam. Satu yang membuatku semakin kaget bahwa ada nyonyah disitu, dan aku tertangkap basah membawa seonggok dunhill yang tinggal beberapa dan berniat untuk kubuka malam itu namun kuurungkan karena tidak lah aku memberikan contoh yang jelek untuknya karena aku tidak ingin dia sepertiku. Satu untuk kali ini pula sangatlah istimewa, ultah berdarah. Sorry hunny, aku membuatmu berdarah. Tetesan darah itu…hasyah…
Dilanjutkan dengan kegiatan biasa-biasa saja karena memang aku datang dengan badan saja tanpa membawa apapun untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai ritual kala ulang tahun selayaknya, maaf kawan tanggal tua, namun aku berniat untuk menggantinya..tapi kapan…?????
Acaraku selesai, namun tidak disangka-sangka ada sebuah kejadian luar biasa, untuk berani malunya, oleh teman kami untuk melakukan sebuah persembahan kepada seseorang-nya. Sungguh luar biasa. Untuk kejadiannya tidak perlu dipublikasikan, hanya saja kalian cukup tau bahwa meski masih mengambang namun itu adalah malam yang sangat istimewa. Bulan pun bercincin, namun sayang kalian tidak mempercayaiku karena kalian tidak melihatnya, sudahlah…
Pukul setengah satu hari selasa tanggal dua puluh tujuh pun akhirnya semua rangkaian acara telah dinyatakan selesai. Terima kasih buat kalian semua, sahabat dan cintaku. My memorable 22.
Fin-