21 april…hari kartini katanya. Tapi memang benar ternyata setelah kulihat di kalender. Satu tanggal merah di khususkan untuk seorang bernama Kartini. Seorang paling berjasa untuk kehidupan perempuan Indonesia yang bisa dirasakan kehebatannya hingga saat ini. Bukan pejuang perang yang biasa membunuh beratus-ratus tentara musuh, bukan sniper yang bisa menembak sasaran dari jarak ber mil-mil tanpa diketahui siapapun, bukan pasukan khusus untuk menghentikan sebuah huru-hara yang meresahkan warga, tapi hanya seorang wanita yang berjuang dengan sedikit tenaga dan pemikirannya, namun karena dia lah diskriminasi terhadap wanita bisa terurai dan hampir tidak dirasakan lagi kini.
Namun Kartini yang terlahir tangal 21 april sudah lama hilang, dan yang kini ada adalah para wanita yang berjuang dengan mengusung jiwa dan semangat Kartini. Wanita-wanita yang telah menerjemahkan pemikiran yang dulu digagas oleh Kartini dan dibawanya dalam kehidupan nyata abad ini. Bagiku semua wanita adalah kartini, yang hidup dengan pemikiran dan tenaga mereka masing-masing untuk tujuan masing-masing pula, untuk mereka sendiri, untuk keluarga, untuk anak-anak mereka, dan bahkan untuk orang lain yang sama sekali bukan bagian dari dirinya.
Ada seorang kartini yang sangat hebat yang nyata kulihat saat ini, ya…dia adalah Emakku. Kartini handal dikeluargaku. Dia bukan seorang dengan karir yang memukau yang terkenal seantero negeri hingga orang-orang mengenalnya, bukan politikus yang berjuang untuk menegakkan hak-hak wanita, bukan. Dia hanya seorang yang berada dirumah mirip seperti penjaga rumah ketika ditinggal oleh suami dan anak-anaknya untuk urusan masing-masing. Seorang yang tabah berteman dengan kesendirian dan berkawan bosan, itu yang ada dipikiranku. Memang benar adanya, dia dirumah sendiri hingga kawan hidupnya kembali lagi dari tempatnya bekerja dan hanya akan bertemu dengan anak-anaknya yang datang seminggu sekali kadang harus menunggu lebih lama hanya untuk bertemu dengan anaknya sendiri.
Ya, dia kartini terhebatku. Seorang yang berjuang dengan kekuatan hati demi saudara-saudaranya, dia rela berkorban apa saja demi melihat saudaranya berhasil, bahagia, meskipun dia sendiri harus melepas sebagian besar dari keinginannya yang mungkin sempat Ia rumuskan ketika mudanya. Seorang kartini yang rela untuk tinggal dirumah dan mengurus segala urusannya ketika ditinggal oleh kawan hidupnya. Hebat, belum tentu aku sanggup melakukannya jika itu dibebankan padaku namun entah kekuatan darimana yang menjadikannya bisa menyelesaikannya tanpa rasa frustasi.
Namun namanya kartini juga manusia, sekarang dia terkulai lemas dan bahkan sempat menginap disebuah tempat yang sangat menyengat aroma obat disekelilingnya, dan sebuah jarum infuse sempat tertancap dipergelangannya untuk beberapa hari. Ya, dia sedang sakit, radang saluran empedu kata seorang yang bernama dokter. Entah penyakit apa itu namun yang jelas berhasil membuatnya KO untuk beberapa hari kedepan.
Dia berbaring namun tidak sendiri, saudara-saudaranya datang siang-malam untuk menjaganya bergantian tanpa pamrih, berpuluh-puluh orang sempat menjenguknya dan membawakannya berbagai macam barang atau sekedar makanan, untuk apa? Bahkan dia sendiri bingung harus makan apa karena harus memilah-milah makanan untuk dirinya sendiri. Namun berkat doa mereka yang entah tulus atau tidak, yang pasti dia beranjak membaik dan sedang memulihkan dirinya sendiri untuk kembali lagi menjadi kartini handal dikeluarga kami.
Yah, jika kamu tanya siapa kartini hebat abad ini ya jelas akan aku jawab Emakku, jika kamu tanya siapa kartini paling berjasa di dunia ini ya sudah barang pasti dia adalah Emakku lagi, apalagi jika kamu tanya siapa kartini terfavorit yang berhak menerima piala Oskar tahun ini ya mana mungkin aku jawab yang lain kecuali Emakku. Dia itu perpanjangan tangan Tuhan dikeluarga kami, dan semoga Tuhan selalu menjaga kartini hebat satu itu dengan tanganNya sendiri. Get well soon, Mom?!!
Fin-